Faktor Risiko Demensia yang Mulai Terbentuk Sejak Awal Kehidupan

Risiko demensia tidak hanya terkait dengan usia lanjut, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sejak awal kehidupan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi dan lingkungan pada masa bayi hingga kanak-kanak bisa memengaruhi perkembangan otak dan meningkatkan risiko penyakit ini di masa depan.

Faktor Kelahiran yang Berkontribusi pada Risiko Demensia

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kondisi kelahiran tertentu memiliki kaitan dengan peningkatan risiko demensia. Misalnya, kehamilan di usia ibu di atas 35 tahun, jarak kelahiran yang terlalu dekat, serta kondisi berbagi rahim dengan saudara kembar. Meskipun risikonya relatif kecil, faktor-faktor ini dinilai berpengaruh terhadap dinamika pengasuhan dan perkembangan individu sejak dini.

Peran Masa Dewasa Muda dalam Pencegahan

Pendekatan serupa juga diperkuat oleh riset yang dilakukan pada akhir 2024. Studi ini memfokuskan perhatian pada kelompok usia 18 hingga 39 tahun dan dipimpin oleh Global Brain Health Institute (GBHI) di Irlandia. Dalam riset tersebut, para ahli dari 15 negara berkumpul untuk menyusun strategi jangka panjang guna menjaga kesehatan otak sepanjang rentang kehidupan.

Francesca Farina, ahli saraf dari GBHI, menegaskan bahwa masa dewasa muda merupakan periode krusial untuk melakukan intervensi pencegahan. Ia menekankan pentingnya melibatkan generasi muda sebagai mitra aktif dalam penelitian, edukasi, serta perumusan kebijakan guna menurunkan risiko demensia di masa depan.

Faktor Kebiasaan Hidup yang Berdampak Buruk

Selain faktor kelahiran, sejumlah kebiasaan hidup sehari-hari juga berkontribusi pada risiko demensia. Beberapa di antaranya adalah:

  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Kebiasaan merokok
  • Kurang bergerak
  • Minimnya interaksi sosial

Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan polusi udara, cedera otak traumatis, gangguan pendengaran atau penglihatan, serta tingkat pendidikan yang rendah juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini.

Kondisi Kesehatan yang Menjadi Faktor Risiko

Kondisi kesehatan seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol LDL yang tinggi, dan depresi juga masuk dalam daftar risiko demensia. Masalah-masalah ini sering kali berkembang sebagai konsekuensi dari pola hidup yang tidak sehat dalam jangka panjang.

Perbedaan Struktur Otak yang Terbentuk Jauh Lebih Awal

Sebelumnya, sebagian besar riset demensia lebih menitikberatkan pada perubahan kognitif yang terjadi pada usia lanjut. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa perbedaan struktur dan fungsi otak yang berkaitan dengan demensia kemungkinan sudah terbentuk jauh lebih awal, bahkan sejak masa kanak-kanak.

Studi longitudinal yang melacak kemampuan kognitif individu sepanjang hidup menunjukkan bahwa kemampuan berpikir seseorang pada usia 70 tahun sangat dipengaruhi oleh kapasitas kognitif yang dimilikinya saat berusia 11 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya fungsi kognitif pada usia tua sering kali bukan semata akibat penurunan yang cepat di masa lansia, melainkan kelanjutan dari pola yang sudah terbentuk sejak kecil.

Pendekatan Pencegahan Jangka Panjang

Melihat gambaran ini secara menyeluruh, para peneliti menekankan bahwa pencegahan demensia seharusnya dipahami sebagai upaya jangka panjang yang berlangsung seumur hidup, bukan hanya intervensi di usia lanjut.

Dalam studi tahun 2024 tersebut, sebagian faktor risiko yang diidentifikasi memang tergolong sudah dikenal luas. Merokok dan konsumsi alkohol, misalnya, telah lama diketahui berdampak buruk bagi kesehatan. Sementara cedera otak secara langsung meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia di masa depan.

Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari kampanye kesehatan masyarakat, pendidikan di lingkungan sekolah, hingga kebijakan fiskal seperti pajak terhadap produk yang berisiko merusak kesehatan otak, termasuk rokok dan minuman beralkohol.

Risiko Baru yang Masih Memerlukan Kajian Lebih Lanjut

Tim peneliti juga menyoroti sejumlah risiko baru yang masih memerlukan kajian lebih lanjut. Di antaranya adalah:

  • Konsumsi makanan ultra-olahan
  • Penggunaan narkoba
  • Durasi paparan layar yang berlebihan
  • Stres berkepanjangan
  • Paparan mikroplastik

Dalam artikelnya di The Conversation, para peneliti mengajukan pertanyaan mendasar: mungkinkah akar demensia bermula sejak masa bayi atau kanak-kanak? Berdasarkan bukti yang terus bertambah, jawabannya cenderung mengarah pada ya. Paparan faktor risiko sejak dekade pertama kehidupan, bahkan sejak dalam kandungan, berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap risiko demensia sepanjang hidup seseorang.