Jersey Alternatif Persebaya Surabaya: Kembali Menggandeng Masa Lalu

Jersey era mendiang Bejo Sugiantoro kembali muncul di tribune Surabaya setelah Persebaya Surabaya merilis jersey alternate untuk Super League 2025/2026. Rilisan ini menjadi momen yang sangat emosional karena menghadirkan kembali memori kejayaan musim 1996/1997 yang tak pernah pudar dari ingatan para penggemar.

Pengumuman rilisan jersey ini diunggah melalui akun Instagram @persebayastore dengan pesan yang menyentuh hati suporter. Pesan tersebut mencerminkan semangat dan kebanggaan terhadap sejarah klub. Dalam unggahan itu, mereka juga mengajak Bonek untuk mendukung klub secara profesional lewat pembelian merchandise resmi.

Respons dari Bonek langsung membludak dengan komentar penuh bangga dan emosional. Salah satu komentar menunjukkan betapa kuatnya rasa nostalgia yang hadir ketika Rachmat Irianto melihat jersey era ayahnya Bejo Sugiantoro. Beberapa Bonek lain juga menyatakan siap menuju store untuk membeli jersey tribute tersebut. Ada juga yang terpukau dengan penampilan desainnya, menyebutnya sangat apik dan penuh identitas.

Kesederhanaan desain retro ini membuat banyak suporter menyebutnya sangat apik dan penuh identitas. Beberapa komentar lain menilai rilis jersey ini pas dengan momentum kebangkitan tim. Momentum rilis jersey itu hadir ketika Persebaya Surabaya sedang mencari konsistensi setelah performa fluktuatif dalam lima laga terakhir.

Green Force hanya meraih enam poin dari lima pertandingan dengan satu kemenangan, tiga imbang, dan satu kekalahan. Performa tersebut menahan Persebaya Surabaya di papan tengah dengan total 15 poin dari 11 pertandingan. Situasi ini membuat derbi Jatim melawan Arema FC pada Sabtu (22/11) menjadi sangat penting untuk menentukan arah musim.

Laga panas di Stadion Gelora Bung Tomo selalu menjadi duel sarat harga diri antara dua rival besar Jawa Timur. Atmosfer diprediksi semakin membara karena rilis jersey baru ini menambah motivasi bagi pemain dan suporter. Arema datang dengan tren sedikit lebih produktif karena mencetak tujuh gol dari lima laga terakhir. Namun, rapuhnya lini belakang membuat mereka kebobolan sembilan gol dalam periode yang sama.

Persebaya Surabaya tampil lebih berhati-hati dengan fokus meraih poin dari pertahanan yang solid. Tiga hasil imbang mereka menunjukkan pendekatan aman tersebut meski belum cukup untuk mengerek posisi ke papan atas. Meski performa Arema lebih agresif, catatan head to head justru sepenuhnya dikuasai Persebaya Surabaya sejak 2022.

Green Force menang lima kali dari enam pertemuan dan satu laga lainnya berakhir imbang. Arema belum pernah memutus kutukan tersebut selama tiga tahun terakhir. Tekanan psikologis itu membuat derbi di GBT kembali berjalan dengan beban tersendiri bagi Singo Edan. Kedua tim kini sama-sama mengumpulkan 15 poin dan berada berdampingan di klasemen.

Pemenang derbi ini bisa langsung naik ke persaingan zona atas Super League 2025/2026. Persebaya Surabaya ingin memanfaatkan dukungan penuh Bonek yang diprediksi memenuhi stadion dengan nuansa tribute untuk Bejo Sugiantoro. Kehadiran jersey ini seperti mengingatkan para pemain tentang warisan besar yang harus dijaga di lapangan.

Bonek percaya jersey alternate ini bukan sekadar apparel baru, tetapi simbol identitas dan keberanian khas Surabaya. Warna, motif, dan nuansa klasiknya dianggap membawa kembali roh kejayaan generasi 90-an. Derbi Jatim kali ini menjadi panggung ideal untuk menguji apakah momentum emosional dari rilis jersey bisa berubah menjadi kemenangan nyata. GBT akan kembali memanas saat kedua tim saling berebut gengsi dan tiga poin berharga.

Pertandingan Sabtu nanti bisa menjadi titik balik penting bagi Persebaya Surabaya yang masih mencari ritme terbaik. Dengan semangat masa lalu dan ambisi masa depan, Green Force siap melangkah lebih wani di Super League 2025/2026.