PENAJAM – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih harus dibeli nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada kisaran Rp12.000 hingga Rp12.500 per liter kembali menjadi perhatian serius DPRD PPU. Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan beban operasional para nelayan yang menggantungkan penghasilan dari tangkapan harian.
Ketua Komisi I DPRD PPU, Ishaq Rahman, menegaskan bahwa persoalan BBM sudah berlangsung lama dan membutuhkan penyelesaian nyata. Ia menyebut percepatan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di kawasan Sungai Tunan, Kecamatan Waru, sebagai langkah paling mendesak.
“SPBN ini merupakan bagian dari fasilitas terpadu yang dirancang untuk mendukung aktivitas perikanan kita di daerah,” ujar Ishaq pada Senin (01/12/2025).
Ishaq menjelaskan, ketiadaan SPBN membuat nelayan tidak memiliki akses langsung terhadap BBM bersubsidi yang sebenarnya disediakan pemerintah. Akibatnya, para nelayan terpaksa membeli BBM di pasaran umum dengan harga non-subsidi, sehingga biaya operasional meningkat dan margin keuntungan semakin menyempit.
Ia menilai ketidaktersediaan fasilitas ini tidak hanya merugikan nelayan, tetapi juga membuat pengelolaan energi sektor perikanan menjadi tidak efisien.
“Karena tidak ada SPBN, mereka tidak bisa menikmati harga BBM yang seharusnya menjadi hak nelayan. Ini tentu membuat pendapatan mereka tidak stabil,” jelasnya.
Lebih jauh, Ishaq menuturkan bahwa keberadaan SPBN bukan sekadar persoalan ketersediaan BBM murah, melainkan bagian dari upaya besar untuk menata ulang sistem energi dan logistik perikanan di PPU. Dengan adanya SPBN, pengawasan distribusi BBM dapat dilakukan secara lebih ketat sehingga potensi penyimpangan, penimbunan, maupun penjualan dengan harga tidak wajar dapat diminimalisir.
Proyek SPBN Sungai Tunan juga direncanakan terintegrasi dengan sejumlah fasilitas perikanan lainnya, seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pabrik es balok. Kehadiran fasilitas terpadu ini diharapkan mampu mendukung rantai usaha perikanan secara lengkap mulai dari pelelangan, penyimpanan, hingga pengisian BBM.
“Dengan fasilitas yang terintegrasi, nelayan bisa mendapatkan layanan lengkap dalam satu kawasan,” tandas Ishaq. (adv)

Leave a Reply