Palangka Raya, Nusantara.co – Bagi Subhan Noor, S.Hut, menjadi lurah bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk merawat rasa aman dan saling percaya di tengah masyarakat. Selama bertahun-tahun memimpin Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, ia membangun pendekatan yang sederhana namun efektif: hadir, mendengar, dan mencari jalan keluar yang adil bagi semua pihak.
Pendekatan inilah yang mengantarkan Subhan ke deretan penerima Peacemaker Justice Award (PJA) 2025, penghargaan bergengsi dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia melalui Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Pengumuman resmi bernomor PHN-HN.04.03-1252 yang dikeluarkan 31 Juli 2025 menetapkan Subhan sebagai salah satu dari 130 kepala desa/lurah terbaik di Indonesia dalam menjaga ketertiban dan menyelesaikan sengketa secara damai.
“Saya percaya, setiap masalah bisa diselesaikan tanpa meninggalkan luka. Kuncinya adalah mau duduk bersama dan saling menghormati,” kata Subhan, menanggapi kabar terpilihnya ia dalam ajang tersebut pada jumat, (08/08)
Sebagai bagian dari penghargaan ini, Subhan akan mengikuti rangkaian kegiatan nasional 1–4 September 2025 di BPSDM Hukum Kemenkumham, Cinere, Depok, dan puncak acara di Graha Pengayoman, Jakarta. Ia akan bersaing dalam seleksi menuju Top 10 hingga Top 3, sekaligus berkesempatan bertukar pengalaman dengan para pemimpin desa dan kelurahan dari seluruh Nusantara.
Subhan menjadi satu-satunya wakil Kota Palangka Raya, namun tidak berangkat sendirian dari Kalimantan Tengah. Tiga tokoh lainnya yang juga terpilih adalah Gusti Ray Novhanda, S.Pi., M.Si (Gunung Mas), Nur Salim, S.H.I (Kotawaringin Barat), dan Tomson Pakpahan, S.Pd (Sukamara).
Bagi warga Bukit Tunggal, keikutsertaan Subhan dalam ajang ini adalah bentuk pengakuan nasional terhadap kerja keras mereka menjaga kerukunan. Di mata warganya, Subhan bukan hanya pemimpin, tetapi juga jembatan yang menghubungkan perbedaan.
“Kami bangga karena beliau membawa nama Bukit Tunggal ke tingkat nasional. Semoga ini jadi inspirasi bagi semua,” ujar seorang tokoh pemuda setempat.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa keteguhan hati, komunikasi yang jernih, dan keinginan tulus untuk melayani bisa mengantarkan seorang lurah dari gang kecil di Bukit Tunggal menuju panggung nasional.

Leave a Reply