Harapan Penjualan Mobil Nasional Mencapai 800 Ribu Unit
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, menyampaikan harapan bahwa penjualan mobil nasional hingga akhir tahun ini dapat mencapai angka 800 ribu unit. Ia mengatakan bahwa jika target tersebut tercapai, maka posisi sebagai penjual mobil terbanyak di Asia Tenggara bisa diambil oleh Malaysia.
“Ya, mungkin diusahakan di 800 (ribu) ya. Kalau 800 (ribu), mahkotanya (penjualan mobil terbanyak di Asia Tenggara) bisa diambil Malaysia,” ujarnya.
Bob menekankan bahwa jika penjualan mobil baru di Indonesia lebih rendah dibandingkan Malaysia, akan ada dampak tertentu bagi ekosistem otomotif di Tanah Air, khususnya dalam hal investasi. “Kalau diambil Malaysia ya investasi nanti yang kita khawatirkan akan masuk ke sana,” tambahnya.
Data Penjualan Mobil pada Januari-Oktober 2025
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil selama Januari-Oktober 2025 secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) hanya sebanyak 634.844 unit. Angka ini turun 10,6 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 711.064 unit.
Sementara itu, secara retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) tercatat sebanyak 660.659 unit pada periode yang sama. Angka ini juga turun 9,6 persen dari tahun lalu yang mencapai 731.113 unit.
Peran Stimulus Relaksasi Pajak dalam Meningkatkan Permintaan
Bob menilai bahwa stimulus relaksasi seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) di tahun 2021 sangat efektif dalam membentuk permintaan (demand creation) untuk mobil baru dan pertumbuhan ekonomi nasional. “PPN itu demand creation, itu otomatis mengguyur likuiditas ke masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa insentif semacam ini juga diterapkan di sejumlah negara lain, seperti Vietnam dan Malaysia, dan terbukti mampu meningkatkan daya beli serta perekonomian secara makro. “Sangat, sangat (efektif), dan itu juga diterapkan di negara lain seperti Vietnam, yang menurunkan PPN, dan sekarang tumbuh ekonominya 78 persen. Malaysia juga memberikan insentif PPN. Jadi banyak negara-negara memberikan insentif dalam bentuk penurunan PPN,” jelas Bob.
Dampak Ekonomi Terhadap Pendapatan Pemerintah
Bob menambahkan bahwa insentif pajak ini tidak hanya berdampak positif terhadap industri otomotif, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan pemerintah. “Itu yang kita harapkan, karena kalau misalnya ekonomi meningkat, maka revenue pemerintah juga naik,” ujarnya.
Dengan adanya kebijakan serupa, diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar mobil yang signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Leave a Reply